Bismillahirrahmanirrahim...
Fahami dengan teliti... InsyaAllah...

Allah telah memuji keimanan dan sikap ihsan antara kaum Anshar dan kaum Muhajirin. Allah berfirman:
﴿وَالّذيْنَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالإِيْمَانَ مِنْ قِبْلِهِمِ يُحِبُّوْنَ مِنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمِ وَلاَيَجِدُوْنَ فِيْ صُدُوْرِهِمْ حَاجَةً مِمَّا أُوْتُوْا وَيُؤْثِرُوْنَ عَلَى أَنْفُسِهِمِ وَلَوْ كَانَ بِهِمِ خَصَاصَةٌ وَمَنْ يُوْقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئك هُمُ الْمُفْلِحُونَ﴾
“Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (yaitu kaum Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (yaitu kaum Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka, dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (kaum Muhajirin) dan mereka mengutamakan (kaum Muhajirin) atas diri mereka sendiri sekalipun mereka membutuhkan (apa yang yang mereka berikan itu). Dan barang siapa yang dijaga dari kekikiran dirinya mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (al-Hasyr: 9)
Ibnu Katsir berkata dalam Tafsiir-nya: “Mereka (kaum Anshar) mencintai orang yang berhijrah kepada mereka”, disebabkan kemurahan dan kemuliaan kaum Anshar, sehingga mereka mencintai kaum Muhajirin dan menolong mereka dengan harta mereka. “…dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (kaum Muhajirin)”, yaitu mereka tidak menemukan dalam hati mereka rasa dengki terhadap kaum Muhajirin yang telah dimuliakan oleh Allah dengan kedudukan dan kemuliaan, serta didahulukannya mereka dalam penyebutan dan kedudukan”
Kecintaan kaum Anshar terhadap kaum Muhajirin bukanlah karena kaum Muhajirin telah berjasa pada kaum Anshar atau telah menolong kaum Anshar sebelumnya. Sama sekali bukan. Keimanan mereka kepada Allah-lah yang menyebabkan hal itu. Kecintaan karena Allah lah yang telah menyatukan antara kaum Muhajirin dan Anshar. [Lihat Mawâqif Ỉmâniyyah, muka 469]

Anas bin Malik bertutur: “’Abdurrahmân bin ‘Auf datang (ke kota Madinah), maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam mengikat tali persaudaraan antara ia dan Sa’d bin ar-Rabi’ al-Anshari. Sa’d menawarkan kepada ‘Abdurrahmân separuh hartanya berikut isterinya. Maka ‘Aburrahman berkata: “Semoga Allah memberi berkat pada keluargamu dan hartamu.” [HR Al-Bukhari (VII/317), kitab Manâqib al-Anshâr]
Dari Ibrahim –yaitu Ibnu Sa’d bin ‘Abdurrahman bin ‘Auf-, dari ayahnya, dari kakaknya, ia berkata: “Tatkala kaum Muhajirin datang ke Madinah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam mengikat tali persaudaraan antara ‘Abdurrahman dan Sa’d bin ar-Rabi’. Sa’d bin ar-Rabi’ berkata kepada ‘Abdurrahman: ‘Saya adalah orang yang paling banyak hartanya di kalangan kaum Anshar, maka ambillah separuh hartaku. Saya juga memiliki dua orang isteri, maka lihatlah diantara keduanya mana yang lebih kau senangi, lalu sebutlah namanya, sehingga saya menceraikannya. Allahu Akbar) Beginilah keimanan para sahabat. Betapa besar kasih sayang di antara mereka. Kalau kita bandingkan dengan kita dizaman sekarang ini, sepertinya ini hanyalah mimpi yang tidak mungkin bisa terjadi. Kami pernah bertemu dengan beberapa orang ikhwah dari luar negeri yang sangat lantang sekali membantah ahli bid’ah. Bahkan lantang-nya, mereka menyatakan bahawa seorang ulama besar yang ada di Saudi sebagai ahli bid'ah. Padahal beliau yang dituduh itu sampai saat ini masih duduk di al-Lajnah ad-Daa-imah lil Buhuuts wal Iftaa' (Komite Tetap untuk Urusan Riset dan Fatwa). Sayangnya, ternyata tingkah laku mereka sehari-hari dalam mu'amalah masih jauh dari manhaj Salaf. Sampai-sampai untuk masalah makanan saja mereka tidak segan-segan mengambil rezeki saudaranya, sebagaimana yang pernah penulis saksikan sendiri sewaktu acara makan bersama di tempat kediaman Syaikh 'Abdul 'Aziz Alu Syaikh. Apakah manhaj Salaf hanya terkait dengan membantah ahli bid'ah, tetapi untuk mu’amalah sehari-hari dengan saudaranya manhajnya ditinggalkan?! Tentu saja hal ini tidak benar. Manhaj Salaf tidak hanya terkait dengan bagaimana men-bangkang ahli bid'ah, tapi juga terkait dengan perilaku seorang muslim sehari-hari. Jangankan mengorbankan isteri yang paling dicintai, rezeki makan saudaranya saja ia ambil.Wallaahul musta’aan.
Jika telah selesai masa ‘iddah-nya, nikahilah dia. ‘Abdurrahman berkata: ‘Semoga Allah memberikan berakah kepadamu, juga kepada keluarga dan hartamu. Dimanakah pasar kalian?’ [Beginilah jiwa para sahabat dari kaum Muhajirin. Kebaikan kaum Anshar tidaklah menjadikan mereka bergantung pada kaum Anshar. 'Abdurrahman bin ‘Auf tetap berusaha sendiri untuk mencukupi kebutuhan hidupnya.
Mereka pun menunjuk padanya pasar Bani Qainuqa’. Tidaklah ‘Abdurrahman kembali dari pasar, melainkan sambil membawa susu yang dikeringkan dan lemak (mentega). Keesokan harinya, ia pun ke pasar lagi. Begitulah yang terjadi setiap hari. Suatu ketika ia datang dan pada dirinya ada bekas (minyak wangi) warna kuning (yang biasanya dipakai oleh wanita). Maka Nabi Shallâllâhu ‘alaihi wa Sallam bertanya kepadanya: ‘Bagaimana kabarmu? ‘Abdurrahman menjawab: ‘Saya sudah menikah.’ Nabi Shallâllâhu ‘alaihi wa Sallam bertanya lagi: ‘Berapa yang kau berikan padanya (sebagai mahar)?’ Ia menjawab: ‘Lima dirham.’ Nabi Shallâllâhu ‘alaihi wa Sallambersabda: ‘Buatlah walimah, meskipun hanya dengan seekor kambing.’” [HR Al-Bukhari (3780). lihat al-Fath (7/142), kitab Manâqib al-Anshar]
Seorang lelaki pernah mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Maka Nabi pun mengutus seseorang kepada isteri-isteri beliau untuk bertanya tentang keadaan mereka. Kata isteri-isteri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam: “Kami tidak mempunyai apa-apa kecuali air.”
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallamlalu bertanya kepada para Sahabat: “Siapakah yang siap menjamu orang ini?”
“Saya,” jawab salah seorang dari kaum Anshar.
Maka pergilah ia bersama laki-laki tersebut ke kediamannya. Sesampainya disana, ia berkata kepada isterinya: “Muliakanlah tamu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam ini.”
“Kita tidak memiliki apa-apa kecuali makanan untuk anak-anak kita,” jawab isterinya.
“Persiapkanlah makananmu itu -yaitu yang disiapkan untuk anak-anak-, lalu nyalakanlah lampu dan tidurkanlah anak-anak kita jika mereka hendak makan malam.”
Isterinya pun mempersiapkan makanan, menyalakan lampu, dan menidurkan anak-anaknya. Setelah itu ia berdiri seakan-akan sedang memperbaiki lampu, lalu ia matikan lampu tersebut. Dalam keadaan gelap gulita, keduanya memberikan makanan kepada si tamu, lalu suami isteri tersebut juga pura-pura makan. Lalu keduanya tidur dalam keadaan lapar. Keesokan harinya sahabat tadi pergi menghadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Maka berkatalah Rasulullah: “Allah tertawa tadi malam –atau- Allah takjub karena sikap kalian.” Lalu turunlah firman Allah:
“Dan mereka mengutamakan (kaum Muhajirin) atas diri mereka sendiri sekalipun mereka butuh (terhadap apa yang yang mereka berikan itu). Dan barang siapa yang dijaga dari kekikiran dirinya mereka itulah orang-orang yang beruntung” (al-Hasyr: 9) [HR Al-Bukhari (3798)]
Sekian...
No comments:
Post a Comment
Note: Only a member of this blog may post a comment.