Sang Setia

Wednesday, March 30, 2011

10 Hours 4729 Miles

Perjalanan pulang ke Mesir... Ini Adalah Gambar-gambar kenangan buat anda..

 Semoga selamanya dilindungi... Semoga Allah doakan sahabat-sahabat di Malaysia...

Saturday, March 26, 2011

Berita Kepada Kawan

Perjalanan ini terasa sangat menyedihkan
Sayang, engkau tak duduk di sampingku kawan
Banyak cerita yang mestinya kau saksikan
Di tanah kering berbatuan

Tubuh ku terguncang di hempas batu jalanan
Hati tergetar menampak kering rerumputan
Perjalan ini pun seperti jadi saksi
Gembala kecil menangis sedih

Kawan coba dengar apa jawabnya
Ketika ia ku tanya "Mengapa?"
Bapak ibunya telah lama mati
Ditelan bencana tanah ini


Sesampainya di laut ku khabarkan semuanya
Kepada karang, kepada ombak, kepada matahari
Tetapi semua diam, tetapi semua bisu
Tinggal aku sendiri terpaku menatap langit

Barangkali di sana ada jawabnya
Mengapa di tanahku terjadi bencana

Mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita
Yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa
Atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita
Coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang

Thursday, March 10, 2011

Dia Tidak Diperlukan Rakyat Lagi



'Kita tak Bisa Hidup Lebih Lama di Bawah Kejahatan Gaddafi'
Demonstrasi di Libya menuntut Muammar Ghaddafi mundur

MANCHESTER 22 Feb 11: Libya bukan Tunisia atau Mesir. Libya berbeda. Jika ada gangguan maka ia hanya terpecah ke dalam beberapa kondisi" Itu adalah kata-kata anak lelaki Moammar Gaddafi, Saif al-Islam Gaddafi, dalam TV negara pada Ahad lalu.

Ia benar. Libya bukan Mesir atau Tunisia. Ini adalah negara dengan lebih dari 1.553.992,87 kilometer persegi lebih dengan populasi kurang dari 7 juta orang. Sejak tahun 1969 negara ini dikenal hanya dengan satu pemimpin.


Mohamed Abdul Malek, kolumnis sekaligus kepala pengamat politik Libya untuk Guardian menggambarkan Moammar Gaddafi, satu-satunya pemimpin sejak 1969, sebagai sosok yang tanpa ampun kepada siapa pun yang berani mengkritiknya dan gaya pemerintahannya. Ini adalah catatan Malek yang juga berdarah Libya tentang negaranya.

Libya dibangun atas landasan kesatuan suku-suku di mana--terlepas memiliki cadangan minyak terbesar di Afrika--dua pertiga penduduknya hidup dibawah garis kemiskinan. Ini adalah satu dari sedikit negara yang tidak bisa menjalin ikatan lama dengan Eropa dan Barat.

Libya juga baru beberapa tahun ini kembali membangun hubungan dengan para tetangganya di Mediterania setelah bertahun-tahun dikenai sanksi oleh AS dan PBB.

Setelah "keluar dari era dingin" pada tahun 2004, hubungan Eropa dengan Libya berkembang pesat. Libya adalah pemasok terbesar ketiga minyak ke Eropa, yang baru-baru ini melampaui posisi Arab Saudi.

Kedekatan Libya dengan Eropa, layaknya terraincognita, alias teritori perawan yang belum dieksplorasi. Minimnya inverstasi barat, membuat Libya potensi menjanjikan, bagi ekonomi barat yang bergantung pada minyak negara Afrika ini.

Fakta bahwa negara ini pernah menggantung mahasiswa yang mengkritik pemerintah, tak menjadi perhatian besar. Padalah salah satu pasal yang mengatur hubungan luar negeri Uni Eropa adalah tidak menjalin kerjasama dengan negara yang melanggar HAM. Kebijakan itu diterapkan kepada sejumlah negara, seperti Myanmar, tapi tidak pada Libya.

Namun, insiden yang terjadi berturut-turut beberapa hari terakhir telah memaksa pemimpin dunia mengevaluasi lagi hubungan mereka dengan rezim. Sejumlah penembak jitu--yang tak pernah mendapat provokasi--menyerang para pengunjuk rasa damai, persenjataan yang notabene produk asing digunakan sebagai alat kekerasan untuk menindas dan menekan kerumunan masa, amunisi dengan mudah ditembakkan ke kerumunan pemrotes, seharusnya sudah cukup menjadi alasan.

Itu belum termasuk blokade terhadap media demi mencegah dunia mencari tahu apa yang terjadi di negara itu. Situasi itu menghadirkan fokus dan perhatian baru terhadap tuntutan murni rakyat Libya dan reaksi tidak manusiawi dari pimpinan mereka.

Ketika membacakan pidato nasional, Saif yang terlihat jelas dilapisi topeng, mengatakan ancaman justru datang dari pengunjuk rasa di jalanan. Ia mengklaim itu sekadar perayaan orang-orang Benghazi, Darnah, dan al-Bayda, yang sebagian besar terdiri para pemuda mabuk akibat minuman dan narkotika, yang kemudian mengarah pada seruan kemarahan dan ejekan kepada Gaddafi dan putranya.

Saif malah mengingatkan bahaya separatisme dan perang sipil yang dapat meletus sewaktu-waktu. Peringatan itu justru membangkitkan persatuan rakyat Libya dan niat untuk mendukung satu sama lain hingga kemenangan tercapai

Menonton dari rumahnya di Manchester, Malek menyebut pernyataan Saif kepada ribuan rakyat Libya--termasuk yang melarikan diri dari Tanah Airnya karena hidup mereka terancam--sangat bodoh dan absurd.

Malek menilai klaim bahwa warga Libya dalam pelarian--yang ditudingnya hidup nyaman di Barat, berharap melihat saudara dan saudari di tanah air 'saling membunuh' sehingga mereka dapat kembali pulang dan memerintah Libya dan juga demonstran, dinilai Malek sungguh manipulatif dan menunjukkan bahwa rezim sangat gemar menakut-nakuti.

Malek menulis, "Tinggal dalam pengasingan dari tanah air selama 30 tahun, demi menghindari tindakan represif pemerintah akibat kritik tajam yang saya lontarkan, sungguh tak ada yang lebih saya inginkan selain pulang dan melihat wajah-wajah keluarga saya yang tentunya telah tumbuh dewasa

Malek merindukan pulang dan berziarah ke makam orang tuanya. "Keduanya meninggal saat saya dalam pengasingan. Sehingga saya tak hadir ketika mereka dimakamkan. Saya ingin bertemu keponakan saya, tentu saudara dan saudari ipar saya, yang pasti masih menjadi orang asing bagi saya,"

Namun ia meyakini waktu kemenangan sudah dekat. Rumor bahwa Gaddafi telah meninggalkan negara, bahwa jet tempur telah dipindahkan dari Benghazi ke Malta, juga kabar bahwa menteri keadilan mengundurkan diri, menurut Malek, adalah indikasi bahwa kebebasan yang diharapkan rakyat, tak lama lagi terwujud.

Siapa yang akan menggantikan Gaddafi bukan sesuatu yang terdepan dalam pikiran rakyat Libya. Pasalnya, tulis Malek, mereka tak pernah mendapat akses untuk mengekspresikan pandangan politik mereka. Selama 40 tahun mereka bahkan tidak mampu untuk menyuarakan itu dengan jelas di depan satu sama lain.

Beberapa waktu mendatang bakal menentukan perubahan politik, sesuatu yang langka dan tak biasa dalam sejarah hidup masyarakat Libya. Satu yang pasti sikap tunduk lesu rakyat Libya adalah masa lalu.

Kini, tulis Malek, mereka tidak lagi takut, bahkan untuk mati demi negara yang mereka cintai. Mereka, lanjutnya, tidak lagi membiarkan sikap tunduk pada penindasan dan penaklukan yang telah diakrabi selama berada di bawah rezim Gaddafi.

Bagi Malek, saat ini adalah tugas dari para pengkotbah demokrasi dari Barat untuk menambah tekanan kepada Gaddafi agar segera mengikuti jejak pemerintah Mesir dan Tunisia serta melepaskan kontrol terhadap negara yang ia hancurkan dan ia tindas selama berdekade.

"Minyak Libya memang telah melindungi rezim ini dari kritik luas pihak Barat. Namun mereka yang mendukung demokrasi, sudah waktunya mendukung perjuangan kami terhadap kebebasan."

Bila mereka meyakini kebohongan dan mengabaikan 'peringatan' Saif, maka, sebut Malek, itu adalah pengacuhan yang menjijikan sekaligus sikap tutup telinga terhadap seruan kebebasan dari rakyat Libya. Mereka berhak mendapatkan angin perubahaan yang telah menyapu penjuru Mesir dan Kairo, dan diharapkan segera bertiup ke istana keluarga Gaddafi. (IH/Republika)

Melayu Jangan Pupuskan JAWI




LEBIH 700 tahun lalu sejak penemuan Batu Bersurat di Terengganu pada kurun ke-13, tulisan jawi pernah mengalami pasang surutnya. meskipun ia pernah menjadi tulisan rasmi bagi Negeri-negeri Melayu Tidak Bersekutu semasa penguasaan British.
Pada zaman lampau, tulisan jawi memainkan peranan penting sebagai pengantara dalam semua urusan pentadbiran, perdagangan dan adat istiadat.
Namun, peredaran zaman menjadikan tulisan jawi yang merupakan salah satu tradisi dalam tamadun Melayu Islam semakin terpinggir sedangkan ia sepatutnya menjadi skrip budaya dan skrip diraja.
Menjadi tanggungjawab semua pihak yang cintakan jawi dan tidak mahu tulisan keramat orang Melayu itu pupus begitu sahaja dengan mengambil inisiatif bagi memastikan ia terus subur selari dengan arus pemodenan.
Merungkai lanjut tentang itu, Pensyarah Usuluddin, Hubungan Muslim/Bukan Muslim Pemikiran Islam dan Ketamadunan Universiti Putra Malaysia (UPM), Dr. Amini Amir Abdullah tidak terkecuali daripada melontarkan sokongan tatkala topik memartabat tulisan jawi diajukan kepadanya.
“Bagi saya, kita perlukan satu peruntukan undang-undang. Contoh mudah ialah menerusi pengiklanan iaitu papan-papan iklan yang hendak dipasang mesti disertakan dengan tulisan jawi.
“Memanglah Bahasa Melayu itu bahasa kebangsaan, jadi ia termasuklah dengan tulisan jawi,” katanya ketika ditemui di UPM, baru-baru ini.

ATAS: Yayasan Restu memainkan peranan dalam penulisan pantun dan gurindam dengan tulisan jawi.


Dr. Amini turut melahirkan rasa hairan kerana sebagai seorang pensyarah yang sering melakukan pelbagai kajian, dia melihat pada zaman lampau, bahasa Cina datang dengan tulisannya. Begitu juga bahasa tamil, tetapi mengapa aliran yang sebaliknya pula berlaku kepada tulisan Melayu?
“Masyarakat Cina amat berbangga dengan kaligrafi mereka, tetapi mengapa kita tidak? Kaligrafi Cina sudah berusia hampir 2000 tahun sedangkan jawi pula baru sekitar 700 ke 800 tahun lalu,” ungkapnya.
Meneruskan bicara, Dr. Amini turut menyelitkan pendekatan top down yang menyaksikan pergerakan daripada golongan atasan sehingga ke peringkat akar umbi.
Baginya, pendekatan sedemikian mampu merealisasikan undang-undang, peraturan atau perancangan yang membawa kepada kejayaan jika sesebuah perundangan diimplementasikan.
“Kita jadikan konsep 1Malaysia sebagai contoh. Ia bermula dari atas iaitu daripada Perdana Menteri kita dan lihat sahaja kepada keberkesanannya,” ujarnya ketika ditemui di pejabatnya baru-baru ini.
Katanya, masyarakat sering melaungkan mahu warisan melayu dipertahankan, ironinya mereka tidak menyedari bahawa tulisan jawi itu adalah sebahagian daripada warisan.
Dr. Amini turut mencadangkan agar tulisan jawi dimasukkan ke dalam peperiksaan besar seperti Ujian Pencapaian Sekolah Rendah (UPSR) atau Penilaian Menengah Rendah (PMR) dan bersifat wajib lulus.
Kuasai tulisan jawi

MENGGUNAKAN tulisan jawi pada papan iklan salah satu cara mendedahkan orang ramai terhadap kepentingan tulisan tersebut. - Gambar hiasan


Tidak hanya tertumpu kepada satu arah sahaja, pendekatan bermotifkan down top juga perlu diberi penekanan bermula daripada sikap pelajar terutamanya yang sudah matang untuk memperkasa tulisan jawi.
“Jangan hanya terarah kepada satu bahagian iaitu guru menyampaikan dan murid pula hanya menerima. Tenaga pengajar perlu kreatif sambil menerapkan ciri-ciri pemahaman, ingatan dan praktikal.
“Perlu ada perancangan, pelaksanaan, pemantauan dan penilaian, penambahbaikan dan tindakan pembetulan baru boleh berjaya,” jelasnya sambil memberitahu sistem pembelajaran Program Jawi, al-Quran, bahasa Arab dan Fardu Ain (j-QAF) merupakan satu langkah yang terbaik untuk terus menghidupkan tulisan jawi.
Sementara itu, Pengarang Utusan Melayu Mingguan, Mohd. Kamil Yusuff ketika mengulas mengenai penubuhan j-QAF memberitahu, semakin ramai yang sudah boleh menguasai tulisan jawi berbanding generasinya empat dekad lalu.
“Saya berada dalam darjah satu pada tahun 1971 dan pada tahun itu, sistem pendidikan negara dirombak dengan mengetepikan jawi.
“Selepas itu, jawi tidak lagi diajar sebagai satu subjek wajib, sebaliknya ia hanya sekadar subjek serpihan dalam subjek lain seperti bahasa Melayu,” katanya.
Mohd. Kamil menekankan salah satu daripada punca kelemahan penguasaan tulisan dan bacaan dalam jawi kerana sikap seseorang itu sendiri.
Sementara itu, Ketua Eksekutif Yayasan Karyawan, Datuk Dr. Hassan Ahmad ketika dihubungi turut berkongsi rasa gusar ekoran tahap penggunaan tulisan jawi yang digunapakai pada ketika ini.
“Satu ketika dulu, tulisan jawi sangat berpengaruh, namun kini seperti dipandang sepi sedangkan ia merupakan ‘peralatan’ yang sangat penting dalam proses pembinaan tamadun Melayu Islam di rantau ini.
“Bagi saya, salah satu daripada cara untuk menyebarkan tulisan jawi ialah melalui bahan bacaan seperti akhbar dan buku bacaan yang wajib dipelajari oleh pelajar Melayu dalam mengikuti mata pelajaran Bahasa Melayu atau Sastera Melayu.



“Sekurang-kurangnya terdapat keseimbangan antara tulisan jawi dan tulisan rumi. Jika boleh, saya mahu pelajar universiti yang mengikuti pengajian bahasa Melayu atau Sastera diwajibkan membaca satu naskhah atau manuskrip lama mungkin pada abad ke-17 atau 18 yang ditulis dalam tulisan jawi,” jelasnya.
Memelihara tulisan jawi
Dr. Hassan turut meluahkan kebimbangan kerana dia enggan Malaysia menjadi seperti Turki yang sudah tidak lagi mementingkan tulisan jawi.
“Saya takut kita menjadi seperti Turki. Mereka sudah tidak tahu membaca tulisan jawi dan membaca al-Quran pula menerusi terjemahan dalam bahasa Inggeris.
“Bagi saya, apa yang penting buat masa ini ialah memiliki sebuah dasar yang tegas untuk terus memelihara tulisan jawi. Pada pandangan saya, dasar kita tidak tegas dan selalu berubah-ubah, bukan hanya dalam konteks ini, tetapi hampir dalam semua bidang. Mungkin ia disebabkan oleh desakan atau dipengaruhi orang lain,” katanya ketika hubungi.
Pada masa yang sama, Dr. Hassan turut meletakkan peranan tulisan jawi sebagai sebuah tapak atau asas kepada seseorang Islam untuk sembahyang, mengaji dan membaca doa-doa menerusi tulisan arab.
“Bagaimana hendak membaca al-Quran jika tidak tahu tulisan jawi? Tidak mustahil pada masa akan datang al-Quran hanya dibaca melalui terjemahan tulisan rumi yang belum tentu sebutan dan cara bacaannya serupa.
“Tidak mustahil dalam masa 20 atau 30 tahun lagi, kita tidak akan mempunyai pengkaji atau sarjana yang mampu mengkaji naskhah Melayu lama yang ditulis dalam tulisan jawi untuk diterbitkan dalam sebagai karya klasik Melayu yang hebat,” ungkapnya lagi.

Tuesday, March 8, 2011

Kisah Pencinta Bahasa Al-Quran Untukku





ENAM tahun lalu, Muhammad Jais Mariapan Muniandy Abdullah, 31, pernah ditertawa dan diperlekeh oleh warga Yemen. Padahal kunjungannya ke negara tersebut membawa harapan yang tinggi iaitu mahu melanjutkan pengajian dalam jurusan Ijazah Pengajian Islam dan Adab di Universiti Sains dan Teknologi Sana’a, Yemen.
Boleh dikatakan saban hari ada saja kata-kata perlian yang singgah ke telinga anak kelapan daripada sembilan orang adik-beradik itu. Pada mulanya, dia menganggap gurauan kasar tersebut sebagai salam perkenalan daripada masyarakat tempatan. Sebaliknya, kata-kata perlian itu memang disengajakan semata-mata mahu mengenakan pemuda yang mesra disapa Jais itu.
“Sebabnya? Kerana saya tidak fasih bertutur dalam bahasa Arab. Orang Yemen terlalu menyanjungi dan memartabatkan bahasa Arab kerana ia merupakan bahasa ibunda.
“Jadi sebab itulah mereka mahu sesiapa saja yang mengunjungi negara mereka baik untuk melancong, bekerja atau belajar perlu tahu serba sedikit bahasa berkenaan,” jelas Jais yang hanya fasih bertutur dalam bahasa Tamil, Melayu dan Inggeris.
Memeluk Islam secara rasminya pada 3 Julai 1998, Jais mengakui dia tidak pernah didedahkan apatah lagi mempunyai kecenderungan mempelajari bahasa Arab. Sewaktu menuntut di pondok Pasir Tumbuh Kota Bharu, Kelantan, proses pembelajarannya lebih fokus pada kelas fardu ain, mengaji al-Quran dan belajar menulis serta membaca jawi.
Enggan membiarkan dirinya terus dipersenda, anak kelahiran Bukit Jelutong, Shah Alam, Selangor itu mengambil inisiatif menetap di Pusat Bahasa Arab berhampiran universitinya selama dua tahun.
Dalam tempoh tiga bulan Jais menumpukan sepenuh perhatian pada kelas bahasa Arab kendalian tenaga pengajar di pusat itu dan rakan-rakan yang fasih berbahasa Arab. Tidak hanya bergantung kepada kuliah, Jais turut menghabiskan masa di perpustakaan untuk membaca buku bahasa Arab.

Berusaha menghafal


DARI kiri: Naimah Abd. Rahman, Soon Yen, ibu Soon Yen, Soo Ah Khem dan adik Soo Yen, Soo May.



“Saya berusaha menghafal bermacam-macam perkataan dalam bahasa Arab. Ini termasuklah melakukan latihan menulis ayat dan bertutur dalam bahasa Arab dengan rakan-rakan.
“Bagi meningkatkan lagi penguasaan bahasa Arab saya, buat sementara waktu saya mengelakkan diri berkawan atau bertemu rakan-rakan dari Malaysia kerana tidak mahu terdedah pada bahasa Melayu,” jelas Jais yang sehingga kini tidak dapat melupakan kaedah yang dilakukan rakan-rakannya supaya dia dapat menguasai bahasa Arab dengan baik.
Tambah mualaf yang baru mendirikan rumah tangga pada tahun lalu: “Hampir dua tahun rutin harian saya diisi dengan kuliah, proses mengulangkaji dan mendalami bahasa Arab. Jadi, suatu hari rakan-rakan membawa saya ke pasar, bukan untuk membeli barang tetapi untuk belajar bahasa Arab.
“Kata mereka pasar antara kelas yang paling ideal untuk saya berkomunikasi dengan struktur ayat yang betul. Menerusi proses jual dan beli kita dapat memperbaiki kelemahan ayat. Pada mulanya, memang kekok dan tunggang terbalik bahasa Arab saya, tetapi bersyukur kerana para penjual tidak lokek berkongsi ilmu dengan membetulkan susunan ayat saya.
Memahami al-Quran
Tahun ini genap tiga tahun, Jais menguasai bahasa Arab. Dia berharap supaya umat Islam khususnya dapat menguasai bahasa ini agar dapat memahami dengan lebih jelas ayat al-Quran dan hadis, memandangkan kedua-dua sumber rujukan Islam itu hadir dalam bahasa Arab.
“Kebaikan mendalami bahasa Arab memberi keinsafan kepada saya setiap kali membaca al-Quran, ketika menunaikan solat dan doa-doa yang dibaca setiap hari. Saya dapat memahami makna ayat-ayat surah yang dibaca. Lagipun ia merupakan bahasa pertuturan nabi Muhammad S.A.W dan bahasa syurga.
“Bagi saya bahasa Arab dianggap bahasa global selepas bahasa Inggeris. Lihat saja situasi penggunaan bahasa tersebut pada hari ini. Ia bukan sahaja dipraktikkan di kalangan orang Arab dan Muslim malah bahasa Arab berjaya memikat masyarakat di seantero dunia tanpa mengira agama dan bangsa untuk mendalami dan mempelajarinya,” tutur Jais ketika ditemui Kosmo! di pejabat Pertubuhan Kebajikan Islam Malaysia (Perkim), Jalan Ipoh, Kuala Lumpur baru-baru ini.
Sementara itu, Wee Soo Yen, 16, yang menuntut di Sekolah Menengah Kebangsaan Bachok, Kelantan antara individu yang berjaya membuktikan masyarakat Cina juga mampu menguasai bahasa Arab dengan baik. Meskipun menyedari dalam budaya Cina sendiri mempunyai pelbagai cabang bahasa seperti Mandarin, Kantonis, Hokkien atau Teo Chew yang boleh dipelajari, namun remaja yang gemar tersenyum itu lebih tertarik pada bahasa Arab.
Kesungguhannya mempelajari bahasa Arab dalam tempoh dua tahun tanpa jemu telah membawanya pada puncak kejayaan yang mengagumkan banyak pihak. Pada Peperiksaan Menengah Rendah (PMR) tahun lalu, Soo Yen mencatatkan keputusan cemerlang 8A dalam semua subjek termasuklah Bahasa Arab.
Calon tunggal

SOON YEN (tengah) bersama rakan-rakannya mempelajari bahasa Arab dengan bimbingan guru Naimah Abd. Rahman.



Lebih membanggakan, anak sulung daripada dua orang adik-beradik itu merupakan calon tunggal bukan Melayu di Kelantan yang menduduki peperiksaan kertas Bahasa Arab Komunikasi, sekali gus melayakkan Soo Yen menerima Anugerah Tokoh Maulidur Rasul Peringkat Kebangsaan 2011.
“Bersyukur dengan nikmat yang dikecapi. Saya tidak menyangka sama sekali bakal memperoleh keputusan A dalam subjek bahasa Arab, memandangkan ia antara bahasa asing bagi saya yang berketurunan Cina. Pada mulanya, saya pun ragu-ragu untuk belajar bahasa ini tetapi kerana terlalu mencintai pelbagai bahasa maka saya nekad.
“Lagipun saya sudah mengusai bahasa Melayu, bahasa Inggeris, Hokkien, Mandarin dan Kantonis dengan baik. Jadi, apa salahnya saya mempelajari bahasa Arab pula,” jelas Soo Yen yang kini mula berjinak-jinak belajar bahasa Korea menerusi Internet.
Menyorot kisahnya mendalami bahasa Arab, semuanya tercetus ketika dia belajar di Sekolah Kebangsaan Badak, Bachok, Kelantan. Pada waktu itu penggemar sambal belacan itu seronok melihat teletah rakan-rakan Melayunya mengikuti mata pelajaran Jawi di dalam kelas.
Keseronokan tersebut secara tidak langsung mendorongnya untuk mendalami subjek yang sama. Lagipun tulisan jawi digunakan secara meluas di negeri Cik Siti Wan Kembang. Pada peringkat permulaan, dia diperkenalkan dengan abjad-abjad jawi sebelum beralih pada proses menulis dan kaedah membaca ayat jawi.
“Namun saya berpeluang mempelajari subjek Jawi sehingga darjah dua saja. Walaupun sedih kerana tidak dapat meneruskan mata pelajaran Jawi tetapi kekecewaan itu terubat apabila memasuki sekolah menengah. Sebaik mengetahui pihak sekolah menawarkan subjek bahasa Arab untuk calon- calon PMR, saya menyampaikan hasrat untuk mendalami bahasa berkenaan kepada ustazah.
“Nasib baik saya mempunyai asas menulis dan mengenal huruf jawi, jadi ia memudahkan saya untuk menulis perkataan dan menulis ayat dalam bahasa Arab. Tetapi kesukaran belajar Arab ini sebenarnya terletak pada aspek tatabahasa dan proses menghafal.
Bayangkan, saya perlu menghafal banyak perkara seperti benda, hidupan, makanan, kata hubung dan kata kerja dalam bahasa Arab,” jelas Soo Yen ketika ditemui Kosmo! di Putrajaya, baru-baru ini.
Sehubungan itu, bagi menguasai bahasa Arab pada tahap yang lebih baik, anak kepada pasangan Wee Hock Lim dan Soo Ah Khem itu memperuntukkan masa selama dua jam setiap hari untuk proses menghafal dan berlatih menulis bahasa Arab.
Bagi mengelakkan perkataan yang dihafalnya sentiasa tersemat dalam memori, dia kerap mencatat dalam sebuah buku nota kecil. Pada masa yang sama, Soo Yen merujuk pada buku teks dan kamus Oxford bahasa Arab yang dibelinya.
“Bahasa Arab memang sukar untuk dikuasai tanpa latihan hafalan, tulisan dan komunikasi yang secukupnya. Sebab itu, di sekolah saya mengambil kesempatan berbahasa Arab bersama kawan-kawan dan ustazah. Itu saja cara yang sesuai kerana di rumah saya dan keluarga berkomunikasi dalam bahasa Inggeris dan Hokkien,” tutur gadis manis itu yang menyifatkan keistimewaan bahasa Arab terletak pada keunikan sebutan, penyusunan kata dan ayatnya.
Latihan komprehensif


JAIS menajamkan kemahirannya dalam bahasa Arab dengan banyak bertutur bahasa tersebut.


Dalam pada itu guru Bahasa Arab di SMK Bachok, Romahani Daud, 40, memuji keberanian Soo Yen belajar dan menduduki peperiksaan PMR untuk subjek bahasa Arab. Biarpun terpaksa bersaing dengan rakan sekelas yang majoritinya berketurunan Melayu dan terbiasa pada bahasa Arab dan tulisan jawi sejak kecil, tetapi ia sedikitpun tidak mematahkan semangat Soo Yen.
“Soo Yen merupakan pelajar yang paling menonjol di dalam kelas sehinggakan dia sentiasa menjadi rujukan rakan-rakannya yang lain. Resipi kejayaannya terletak pada kesungguhan dan sikapnya yang tidak malu bertanya. Kadangkala tanpa perlu dipanggil dia sendiri datang berjumpa kami untuk bertanya soalan.
“Pretasi pelajar bahasa Arabnya sebelum ini tidaklah begitu memberangsangkan. Dia pernah memperoleh 60 peratus dan kemudian meningkat sehingga 70 peratus. Pihak sekolah yakin Soo Yen mampu mencapai kejayaan cemerlang selepas dia mencatat gred A dalam percubaan PMR,” jelas ibu kepada lima orang cahaya mata itu.
Tambah Romahani yang telah berkhidmat selama empat tahun di sekolah berkenaan, sesiapa pun berpeluang mempelajari bahasa Arab mahupun bahasa-bahasa lain. Asalkan mereka rajin membaca dan faham setiap perkataan yang dipelajari.
Mengubah persepsi masyarakat
Menyentuh mengenai bangsa asing terutamanya bukan Muslim yang mempelajari bahasa Arab, guru bahasa Arab Naimah Ab. Rahman, 50, ia satu petanda positif yang perlu diteruskan bukan sahaja di Malaysia tetapi di seluruh dunia.
Situasi ini membuktikan bahawa pengetahuan bahasa Arab juga ada keunikan dan kepentingan tersendiri.
“Terlalu banyak kelebihan mendalami bahasa syurga ini terutamanya buat golongan pelajar, ahli korporat dan golongan profesional. Seperti yang kita sedia maklum sesiapa yang memohon belajar di Asia Barat salah satu kriterianya perlu mahir berkomunikasi dan menulis dalam bahasa Arab.
“Selain itu, ia memudahkan ahli perniagaan yang ingin menjalankan urusan niaga di negara Asia Barat. Malangnya, ramai di kalangan kita memandang enteng pada penguasaan bahasa Arab. Mereka anggap ia sukar untuk dipelajari sedangkan para pelajar akan diajar dengan teknik-teknik yang betul.
“Sebagai tenaga pengajar bahasa Arab, saya berharap agar pihak bertanggungjawab mengadakan kempen untuk mempromosikan keistimewaan dan kepentingan bahasa Arab,” tutur graduan Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) dalam jurusan bahasa Arab itu.