Sang Setia

Thursday, August 11, 2011

Meneladani Pola Hidup Sehat ala Rasulullah

Salah satu sisi kehidupan yang patut diteladani dari pribadi Rasulullah adalah pola hidup sehat. Pendekatan yang digunakan Rasulullah adalah pola preventif yang sejalan dengan disiplin ilmu kesehatan masyarakat. “Kesehatan merupakan salah satu hak bagi tubuh manusia” demikian sabda Nabi Muhammad SAW.
Perihal kesehatan dan masalah penyakit telah disebutkan dalam Al Quran. Pada surah Yunus: 57 disebutkan, ”Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh-penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk dan rahmat bagi orang-orangnya yang beriman” (QS:Yunus 57).

Sehat ala Rasulullah

Berdasarkan sejarah hidup Rasulullah, tercatat hanya dua kali menderita sakit yakni setelah menerima wahyu pertama di Gua Hira. Saat itu tubuh Rasulullah mendadak demam karena mengalami ketakutan yang amat sangat. Sedang peristiwa sakit yang kedua Rasulullah pada saat menjelang meninggalnya. Fakta ini mengindikasikan bahwa Rasulullah memiliki ketahanan fisik yang luar biasa. Sementara kondisi alam di Jazirah Arab ketika itu sangat keras, tandus, panas di siang hari dan dingin di malam hari.
Dalam Shahih Bukhari, terdapat 80 hadits yang membicarakan masalah kesehatan pribadi Rasulullah. Belum lagi yang dibahas pada kitab Shahih lainnya seperti Shahih Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, Baihaqi, dan Shahih Ahmad. Rasulullah dalam hidupnya sangat peduli pada kesehatan, baik kesehatan dirinya maupun kesehatan pada umatnya. Ajarannya pada aspek kesehatan menekankan pada pola pencegahan daripada pengobatan.

Ada dua pola hidup sehat yang menonjol dan relevan dengan disiplin ilmu kesehatan masyarakat yakni kesehatan individu dan masalah pengaturan gizi kesehatan. Pada aspek kesehatan individu, Rasulullah senantiasa menjaga kebersihan dirinya seperti rajin memotong kuku, mencuci dan memotong rambut serta menggosok gigi. Kegiatan memotong kuku dan rambut dilakukan setiap hari kamis atau hari jumat setiap pekan

Hal lainnya terkait dengan kesehatan individu Rasulullah adalah membatasi makanan didalam perut. Rasulullah menganjurkan umatnya agar menyediakan ruang di dalam perut untuk tiga hal yakni udara, air dan makanan. Ketiganya harus diisi secara seimbang masing-masing sekitar sepertiga isi perut. Sebagaimana Sabda Rasul: “Kami adalah sebuah kaum yang tidak makan sebelum lapar dan bila kami makan tidak terlalu banyak (tidak sampai kekenyangan)”.

Pada aspek pengendalian gizi, Rasulullah selalu menjaga makanan yang dikonsumsinya. Dalam hidupnya Rasulullah kerap mengonsumsi kurma baik kurma kering maupun kurma basah. Anjuran mengonsumsi kurma beberapa kali disebutkan dalam Al-Quran, seperti pada Surat Ar-Ra’du: 4, “Dan di bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdampingan, dan kebun-kebun anggur, tanam-tanaman dan pohon kurma yang bercabang dan tidak bercabang, disirami dengan air yang sama. Kami melebihkan sebagian tanam-tanaman di atas sebagian yang lain tentang rasanya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir” dan Surat Qaaf: 10, “Dan pohon kurma yang tinggi-tinggi yang mempunyai mayang yang bersusun-susun.”

Menyangkut keajaiban kurma, Rasulullah bersabda sebagaimana diriwayatkan abu Daud dan Tirmidzi. Dari Anas r.a., “Rasulullah SAW. berbuka puasa sebelum shalat dengan memakan kurma segar, kalau tidak ada maka dengan kurma kering, dan kalau tidak ada beliau meminum beberapa teguk air.”

Bila dilakukan penimbangan atas tujuh buah kurma (100 gram) yang diserukan dalam hadis, ternyata didalamnya mengandung gula (75,00 gram), air (22,50 gram), protein (2,50 gram), lemak (2,50 gram), serat selullosa (4,00 gram) serta vitamin A, B-1 dan B-2. Sedang kandungan mineral pada tujuh kurma masing-masing: Potasium (79 miligram), Tembaga (21 miligram), Belerang (65 miligram),  Besi (5 miligram), Magnesium (65 miligram), Mangan (2 miligram), Kalsium (65 miligram) dan Fosfor (72 gram). Intinya, 100 gram (7 kurma) dapat memberikan lebih dari 350 energi bagi tubuh manusia.

Para ahli kesehatan juga sepakat mengungkapkan adanya asam amino pada kurma, seperti glutathione sebagai antioksidan. Setelah diteliti secara ilmiah, kurma memiliki semua unsur makanan pokok yang dibutuhkan oleh tubuh seperti protein, mineral, gula dan vitamin.

Seorang dokter muslim bernama Muhammad An_nasami dalam bukunya “Ath-Thibb an-Nabawy wal ‘Ilmil Hadis” (Pengobatan Ala Nabi dan Ilmu Modern) mengatakan secara kedokteran, perempuan hamil yang akan melahirkan itu sangat membutuhkan makanan dan minuman yang kaya akan unsur gula, hal ini karena banyaknya kontraksi otot-otot rahim ketika akan mengeluarkan jabang bayi, terlebih lagi apabila hal itu membutuhkan waktu yang lama. Kandungan gula dan vitamin B1 sangat membantu untuk mengontrol laju gerak rahim dan menambah masa sistolennya (kontraksi jantung ketika darah dipompa ke pembuluh nadi). Dan kedua unsur itu banyak terkandung dalam ruthab (kurma basah). Kandungan gula dalam ruthab sangat mudah untuk dicerna dengan cepat oleh tubuh.

Pola Hidup

Pola hidup sehat ala Rasulullah berpusat pada pengendalian gizi/makanan. Makanan yang masuk ke mulut Rasulullah terseleksi secara ketat, baik kehalalannya maupun kebaikannya. Ukuran kehalalan menyangkut cara mendapatkannya secara halal (legal) dan berkaitan dengan urusan akhirat. Sedangkan kebaikan (thayyib) berkaitan dengan urusan duniawi berupa makanan yang bergizi untuk dikonsumsi. Makanan yang kerap dikonsumsi Rasul adalah madu untuk membersihkan pencernaan. Sebagaimana hadits Nabi, “Hendaknya kalian menggunakan dua macam obat, yakni madu dan Al Quran” (HR Ibnu Majah dan Hakim).

Pola hidup sehat lainnya ala Rasulullah adalah berhenti makan sebelum kenyang dan tidak makan sebelum lapar. Rasulullah sangat peduli atas kandungan perut yang terdiri atas zat padat, zat cair dan zat gas. Hadis nabi berbunyi, ”Anak Adam tidak memenuhkan suatu tempat yang lebih jelek dari perutnya. Cukuplah bagi mereka beberapa suap yang dapat memfungsikan tubuhnya. Kalau tidak ditemukan jalan lain, maka (ia dapat mengisi perutnya) dengan sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiganya lagi untuk pernafasan” (HR Ibnu Majah dan Ibnu Hibban).

Mengatur pola tidur adalah kunci hidup sehat ala Rasulullah yakni cepat tidur malam hari dan cepat bangun pada dinihari. Biasanya Rasulullah tidur selepas Shalat Isya untuk kemudian bangun paa sepertiga malam untuk shalat lail. Lamanya waktu tidur tidak melebihi kebutuhan, demikian pula pada saat ingin tidur tidak menahannya. Cara tidur Rasulullah memiringkan tubuh kearah kanan sambil berzikir hingga matanya terasa berat dan akhirnya tertidur. Kadang badan Rasulullah dimiringkan ke kiri sebentar, lalu kembali miring ke sebelah kanan. Model tidur seperti ini sangat baik untuk kesehatan karena merupakan posisi yang pas dengan lambung sehingga makanan mengendap secara proporsional. Ketika beralih ke sebelah kiri sebentar maka proses pencernaan makanan lebih cepat karena lambung mengarah ke lever, baru kemudian berbalik lagi ke kanan hingga akhir tidur agar makanan lebih cepat tersuplai dari lambung (Al Jauziyyah 2004). Ketika bangun tidur, Rasulullah langsung bersiwak (sikat gigi), lalu berwudhu dan shalat.

Tuntutan Rasulullah dalam pola hidup sehat adalah kebiasaannya menjalankan puasa sunnah diluar bulan Ramadhan. Beberapa puasa sunnah yang dianjurkan oleh Rasulullah adalah puasapaa hari senin dan kamis, puasa enam bulan pada bulan Syawal, dan sebagainya. Berpuasa adalah tameng sederhana dan efektif bagi diri pribadi agar terhindar dari berbagai macam penyakit jasmani dan rohani. Pada sisi kesehatan jasmani, berpuasa dapat menjaga organ tubuh dan stamina tubuh agar tetap berenergi serta sarana pembersihan racun (detoksifikasi) secara total dalam tubuh.

ola hidup Rasulullah yang terkait dengan kesehatan, sebagian besar bersifat preventif. Karena itu, anjuran bersuci, berkhitan, dan senyum semuanya bertendensi pada kesehatan individu yang bermuara para umat Muslim yang sehat jasmani dan rohani. (Pernah dimuat di harian Fajar, Makassar)

Friday, August 5, 2011

Jangan Sia-Siakan Puasamu

Segala puji bagi Allah yang atas nikmat dan kurnia-Nya sekarang kita berjumpa semula dengan bulan yang penuh dengan berkah dan kemuliaan, iaitu bulan Ramadhan -insya Allah.



Sebagai seorang muslim, tentunya kita harus bersemangat/antusias dalam mengisi waktu kita di bulan Ramadhan dengan amal-amal shalih yang dicintai Allah ta’ala. Namun, seorang muslim tidaklah akan dapat mengerjakan ibadah-ibadah yang benar serta sesuai tuntunan Allah dan Rasul-Nya di bulan Ramadhan melainkan dia telah memiliki ilmu tentang ibadah-ibadah tersebut. Jika tidak, ibadah mereka cuma ikut-ikutan sahaja. Apa yang akan kami paparkan berikut ini merupakan lanjutan dari pembahasan hukum berkenaan puasa sebelum ini.



SUNNAH-SUNNAH PUASA



[1] Mengakhirkan Sahur

Makan sahur mempunyai banyak keutamaan. Selain kerana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat menganjurkannya, makan sahur merupakan pembeda antara puasa kaum muslimin dengan puasa ahlul kitab (Yahudi dan Nasrani). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Perbedaan antara puasa kita dengan puasa ahlul kitab terletak pada makan sahur” (HR. Muslim)



Dianjurkan juga mengakhirkan makan sahur kerana Nabi sering melakukannya. Zaid bin Tsabit berkata kepada Anas “Kami makan sahur bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian kami berdiri untuk sholat”. Anas bertanya “Berapa lama jarak antara azan subuh dan sahur kalian?” Zaid menjawab “Sekitar membaca 50 ayat” (HR. Bukhari-Muslim)



Di dalam hadits di atas juga terdapat dalil bahawa batas akhir sahur adalah azan subuh, bukan yang diistilahkan dengan imsak oleh kebanyakan kaum muslimin hari ini. Ini terbukti dari pertanyaan Anas “Berapa lama jarak antara azan shubuh dan sahur kalian?”. Hal ini menunjukkan bahawa batas akhir sahur di masa Nabi adalah azan subuh. Hadits ini memperkuat firman Allah ta’ala “Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, iaitu fajar” (QS. Al Baqarah: 187). Di samping itu, terdapat banyak hadits yang menunjukkan bahawa batas akhir makan sahur adalah azan subuh.



[2] Menyegerakan berbuka

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Manusia akan senantiasa dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka” (HR. Bukhari-Muslim).



Ibnu ‘Abdil Barr berkata “Hadits-hadits tentang menyegerakan berbuka dan mengakhirkan sahur derjatnya shahih dan mutawatir (banyak yang meriwayatkan). Di dalam riwayat Abdurrazzaq yang shahih dari ‘Amr bin Maimun, beliau berkata “Para sahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia yang paling bersegera berbuka dan yang paling mengakhirkan sahur”. (lihat Fathul Bari karya Ibnu Hajar).



[3] Berbuka dengan Kurma jika ada atau dengan air

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu menuturkan “Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berbuka dengan rathb (kurma basah) sebelum menunaikan sholat. Jika tidak ada, maka beliau berbuka dengan tamr (kurma kering). Jika tidak ada pula, maka beliau berbuka dengan beberapa teguk air” (HR. Ahmad dan Abu Dawud, hasan shahih).



[4] Berdo’a ketika berbuka

Do’a yang shahih yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika berbuka (dibaca setelah berbuka) adalah sebagai berikut “Dzahabat zhama’u wabtallatil ‘uruuqu wa tsabatal ajru insya Allah” yang ertinya “Rasa haus telah hilang dan urat-urat telah basah dan pahala telah ditetapkan insya Allah” (HR Abu Dawud, hasan).



Adapun do’a yang popular di kalangan kaum muslimin iaitu “Allahumma laka shumtu…dst” yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan At Thabrani derjatnya dha’if (lemah) sehingga tidak dapat dijadikan sebagai dalil. Di antara ulama’ yang mendha’ifkan hadits ini adalah Ibnul Qayyim dan Syaikh Al Albani. Oleh kerana itu, cukuplah hadits hasan yang telah disebutkan sebelumnya dijadikan sebagai pegangan beramal disebabkan hadits hasan dapat dijadikan sebagai dalil.



[5] Memberi makan orang yang berbuka

Memberi makan orang yang berbuka mengandungi keutamaan yang besar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Barangsiapa yang memberi makan berbuka kepada orang yang berpuasa, maka dia mendapat pahala seperti orang yang berpuasa tersebut tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa tersebut sedikitpun juga” (HR Tirmidzi, shahih).



HAL-HAL YANG DIPERBOLEHKAN

Seorang hamba yang taat dan memahami Al Qur’an dan As Sunnah tidak akan ragu bahawa Allah ta’ala menghendaki kemudahan bagi hamba-Nya dan tidak menghendaki kesulitan, sehingga syari’at yang bijaksana ini membolehkan beberapa perkara untuk dikerjakan oleh orang yang sedang berpuasa, di antaranya:



[1] Tetap berpuasa meskipun ketika waktu subuh dalam keadaan junub (hadats besar)

Seseorang yang mendapati waktu subuh dalam keadaan junub boleh untuk tetap berpuasa sebagaimana yang diriwayatkan oleh dua isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, iaitu ‘Aisyah dan Ummu Salamah radhiyallahu ‘anhuma keduanya berkata “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mendapati fajar (waktu subuh) dalam keadaan junub kerana bersetubuh dengan isterinya kemudian beliau mandi dan tetap berpuasa” (HR Bukhari-Muslim)



[2] Bersiwak (cuci gigi)

Boleh bagi orang yang berpuasa untuk bersiwak kerana tidak ada larangan khusus dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk bersiwak ketika tengah berpuasa. Bahkan siwak di anjurkan setiap saat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Siwak itu membuat mulut bersih dan diridhai Allah” (HR An Nasa’i, shahih). Para ulama hanya berbeda pendapat tentang makruh atau tidaknya bersiwak bagi orang yang berpuasa ketika setelah zawal (matahari tergelincir ke barat). Namun, sekali lagi tidak ada dalil khusus yang memakruhkan apalagi melarang bersiwak ketika sedang berpuasa sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Taimiyyah dalam Majmu’ fatawa.



[3] Berkumur-kumur dan isytinsyaq (memasukkan air ke dalam hidung dengan nafas) dengan tidak berlebihan

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Dan bersungguh-sungguhlah kalian ber-isytinsyaq (ketika wudhu) kecuali dalam keadaan berpuasa” (HR Tirmidzi, shahih). Ertinya, boleh ber-isytinsyaq ketika berpuasa akan tetapi tidak bersungguh-sungguh (berlebihan).



[4] Bercumbu (bukan bersetubuh) dengan isteri dan menciumnya.

Hal ini dibolehkan selama tidak keluar mani. ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mencium dan mencumbu (isterinya) dalam keadaan berpuasa kerana beliau adalah orang yang paling kuat menahan syahwatnya” (HR Bukhari-Muslim).



[5] Berbekam dan derma darah

Majoriti ulama membolehkan orang yang berpuasa untuk berbekam. Adapun hadits tentang batalnya puasa orang yang berbekam yang diriwayatkan oleh At Tirmidzi dan Abu Dawud memang shahih, akan tetapi telah di-mansukh (dihapus hukumnya) oleh hadits riwayat Ibnu Abbas, beliau berkata “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berbekam dalam keadaan beliau berpuasa” (HR Bukhari). Disamakan pula hukumnya dengan derma darah kerana sama-sama mengeluarkan darah dari dalam tubuh. Akan tetapi, para ulama mempersyaratkan bekam dan derma darah tersebut boleh jika tidak membuat lemas.



[6] Mencicipi makanan asalkan tidak masuk ke kerongkongan

Dalilnya adalah perkataan Ibnu Abbas, “Tidak mengapa seseorang mencicipi cuka atau sesuatu dalam keadaan sedang berpuasa selama tidak masuk ke kerongkongan” (HR Bukhari secara mu’allaq (tanpa sanad), Ibnu Abi Syaibah, dan Al Baihaqi)



[7] Mandi dan menyiramkan air di kepala supaya segar

Hal ini berdasarkan hadits riwayat Bukhari Muslim dalam pembahasan bolehnya berpuasa ketika mendapat fajar dalam keadaan junub yang telah kami sebutkan (point 1). Selain itu, dikuatkan dengan hadits dari Abu Bakr bin Abdurrahman beliau berkata “Sungguh aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di Al ‘Araj mengguyur kepalanya dengan air dalam keadaan beliau sedang berpuasa – kerana keadaan yang sangat panas terik- ” (HR Abu Dawud dan Ahmad, shahih).



JANGAN SIA-SIAKAN PUASAMU…
 
Kaum muslimin rahimakumullah, sesungguhnya puasa itu tidak semata-mata menahan diri dari makan, minum, dan syahwat. Akan tetapi, puasa juga mencakupi menahan diri dari perbuatan dosa dan kemaksiatan. Tidakkah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ini menjadi peringatan bagi kita? “Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia hanya mendapatkan rasa lapar dan dahaga semata dari puasanya tersebut” (HR Ahmad,Ibnu Majah, dan Ad Darimi dengan sanad shahih). Berikut ini adalah hal-hal yang dapat menjadikan puasa kita tidak bererti di sisi Allah ta’ala.



[1] Berkata dusta

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Barangsiapa yang tidak meninggalkan perbuatan dusta malahan mengamalkannya, maka Allah tidak perlu kepada rasa lapar dan haus yang dia tahan” (HR Bukhari). Dan sungguh hal ini masih banyak diremehkan oleh banyak kaum muslimin sehingga secara sedar atau tidak sedar ada yang masih melakukan perbuatan dusta meskipun dia sedang berpuasa.



[2] Berkata sia-sia dan kotor

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ”Tidaklah puasa itu hanya sebatas menahan makan dan minum, akan tetapi puasa itu juga menahan diri dari berkata sia-sia dan kotor. Maka apabila ada seseorang yang mencela dan menjahilimu, maka katakanlah ‘Aku sedang puasa, aku sedang puasa’” (HR. Hakim dan Ibnu Khuzaimah, shahih)



[3] Maksiat secara umum

Hendaknya seorang yang berpuasa meninggalkan seluruh perbuatan maksiat. Meskipun maksiat tersebut tidak membatalkan puasa, namun maksiat tersebut dapat mengheret pelakunya ke tingkat puasa yang paling rendah, iaitu hanya meninggalkan makan dan minum semata, sebagaimana riwayat salaf yang dinukil oleh Ibnu Rajab dalam Latha’iful Ma’arif.



Demikian pembahasan ini kami sampaikan, sebenarnya banyak yang perlu untuk dibahas dan diperinci, akan tetapi pembahasan ini semoga dapat mencukupi buat kaum muslimin.

Tuesday, August 2, 2011

Nasihat Ramadhan

Dari buku Khulaasatul Kalaam oleh Shaykh Jaarullah.

Saudara Muslim dan Muslimah:

1. Berpuasa Ramadan dengan keimanan yang teguh dan benar-benar mencari ganjaran pahala Allah SWT dan semoga Allah SWT mengampunkan dosa kita .

2. Berhati-hati berbuka puasa pada siang hari-hari Ramadhan (sebelum waktu berbuka) tanpa alasan yang sah, kerana ia adalah dari dosa yang paling besar.



3. Mengerjakan Solat Tarawih dan solat malam pada malam-malam Ramadan - terutama pada Malam al-Qadar - berdasarkan keimanan dan benar-benar mencari pahala Allah, supaya Allah mengampunkan kamu dan dosa masa lalu anda.

4. Pastikan bahawa makanan anda, minuman dan pakaian anda adalah dari harta yang halal, untuk memastikan amalan anda diterima, dan doa anda di makbulkan. Berhati-hati dengan perkara yang tidak halal ketika berpuasa dan berbuka puasa dengan yang haram.

5. Memberi makanan kepada orang yang berpuasa untuk mendapat pahala yang sama dengan bagi mereka.

6. Menunaikan solat lima waktu secara berjemaah untuk mendapatkan pahala dan perlindungan Allah.

7. Beri banyak sedekah dan sedeqah yang terbaik adalah ketika Bulan Ramadhan.

8. Berhati-hati dengan menghabiskan masa anda tanpa melaksanakan amal-amal soleh, anda akan bertanggungjawab dan dikira dan akan diberi ganjaran bagi semua yang anda lakukan.

9. Mengerjakan `umrah pada bulan Ramadhan kerana Umrah pada bulan Ramadhan adalah sama dengan Haji.

10. Mencari pertolongan untuk berpuasa di siang hari dengan makan sahur di bahagian akhir malam sebelum kemunculan Fajar.

11. Menyegerakan berbuka puasa untuk mendapatkan kasih sayang Allah.

12. Lakukan Mandi sebelum Subuh jika anda perlu untuk membersihkan diri anda dari keadaan hadas besar supaya anda dapat melakukan ibadah dalam keadaan suci dan bersih.


13. Jangan lepaskan peluang berada pada bulan Ramadhan dengan menghabiskannya dengan membaca Al-Quran yang mulia yang telah diturunkan di dalamnya dengan memahami dan menghayati makna supaya ia menjadi bukti untuk anda dengan Allah dan pemberi syafaat untuk anda di hari hitungan amal.

14. Memelihara lidah daripada berdusta, mencaci, mengumpat dan fitnah kerana ia mengurangkan pahala puasa.

15. Jangan biarkan puasa menyebabkan anda melampaui batas dengan kemarahan kerana sebab-sebab kecil. Sebaliknya, puasa harus menjadi punca kedamaian dan ketenangan jiwa anda.

16. Selepas menjalani ibadah puasa, pasti didalam keadaan bertaqwa kepada Allah SWT, dan sedar Allah melihat anda secara rahsia dan di tempat awam, bersyukur dengan nikmat-nikmat Allah, dan sabar melakukan ketaatan kepada Allah dengan melakukan apa yang telah diperintahkanNya dan menjauhkan apa yang dilarangNya.

17. Memperbanyakkan zikir, memohon ampun, meminta syurga dan perlindungan daripada neraka, terutama ketika berpuasa, ketika berbuka dan semasa sahur, kerana amalan ini adalah antara sebab-sebab terbesar mencapai keampunan Allah SWT.

18. Memperbanyakkan dalam doa untuk diri sendiri, ibu bapa, anak-anak anda dan umat Islam, sesungguhnya Allah telah memerintahkan kita berdoa dan telah menjamin untuk mengkabulkannya.

19. Bertaubat kepada Allah dengan taubat yang ikhlas dalam setiap masa dengan meninggalkan dosa, menyesali orang-orang yang anda telah lakukan sebelum dan tegas memutuskan untuk tidak kembali kepada mereka pada masa hadapan, untuk Allah menerima taubat orang yang bertaubat.

20. Berpuasa enam hari Syawal, sesiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian mengikutinya dengan enam hari Syawal, ia seolah-olah dia berpuasa sepanjang tahun.

21. Berpuasa pada hari Arafah, 9 ZulHijjah, untuk mencapai kejayaan dan diampunkan dosa-dosa anda tahun lalu dan tahun yang akan datang.

22. Berpuasa pada hari `Aashuraa, 10 Muharram, bersama-sama dengan yang ke-9, untuk mencapai kejayaan dan diampunkan dosa-dosa anda tahun lalu.

23. Terus berada dalam keadaan iman dan taqwa dan melaksanakan tindakan yang benar selepas bulan Ramadhan, sehingga anda mati. Dan sembahlah Tuhanmu sehingga datang kepada kamu kepastian (yakni kematian). [Quran 15:99]

24. Pastikan anda mencapai kesan positif oleh amalan ibadah yang seperti solat, puasa, zakat dan haji, taubat yang ikhlas dan meninggalkan adat yang bertentangan dengan Sharee `ah.

25. Mengucap banyak salawat dan salam ke atas Rasulullah SAW, sahabat dan semua orang-orang yang mengikuti mereka sehingga hari kiamat.
Muslim little cute kid with hat, isolated Stock Photo - 6013413
" Ya Allah jadikanlah kami dan semua umat Islam orang-orang yang berpuasa dan berdiri dalam solat pada bulan Ramadan yang berdasarkan keimanan dan benar-benar mencari ganjaran Engkau, ampunkan dosa kami yang lalu dan dimasa depan.

Ya Allah jadikan kami orang-orang yang berpuasa dibulan itu, mencapai pahala penuh, menyaksikan Lailatul-Qadr dan mencapai kejayaan dengan izin Allah SWT.

Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun, suka mengampun, oleh itu ampunkanlah kami.

Wahai Tuhan, terimalah dari kami, sesungguhnya Engkau adalah Yang Maha Mendengar, Maha Melihat, Ya Hayyu Ya Qayyum, Wahai Pemilik semua keagungan dan kehormatan.

Dan Semoga Allah merahmati ke atas Muhammad SAW, keluarganya dan para sahabat. Amin, Ya Rabbal 'Alamin.

Monday, August 1, 2011

Salam Ramadhan

 Bulan Ramadhan bulan berganda. Setiap apa saja yang dilakukan akan mendapat balasan berganda. Malahan nafsu kita juga turut berganda walaupun pada bulan ini syaitan dirantai oleh Allah. Ini adalah kerana nafsu telah bertapak di hati dan bermaharajalela.

Saudara-saudari,

Apabila kita membuat kesilapan kita sering menyalahkan syaitan dan iblis yang menggoda kita. Tetapi mengapakah kesilapan yang sama turut berlaku dalam bulan Ramadhan? Adakah rantai-rantai yang membelit kaki-kaki syaitan itu terlalu panjang hingga dapat memberi 'petunjuk' kepada kita?

Sabda Rasulullah saw.:

"Apabila datang bulan Ramadhan, dibukakan pintu langit dan ditutup pintu neraka serta dibelenggu segala syaitan."

Semoga dengan keberkatan Ramadhan ini kita akan dapat menggilap kembali hati kita yang pudar dan melumpuhkan nafsu-nafsu hitam yang bertahta di hati kita selama ini. Oleh itu, inilah masa yang perlu digunakan sebaik mungkin untuk mendidik kembali nafsu kita yang selama ini dikongkong oleh syaitan. Berpuasa bukanlah sekadar berlapar semata-mata. Tetapi puasa adalah berlapar di samping mendidik nafsu dan peribadi manusia. Ini adalah jihad yang maha besar yang perlu dihadapi oleh setiap  umat Islam.

Nabi Muhammad saw pernah bersabda:

"Berjihadlah kamu dengan lapar dan dahaga kerana pahalanya seperti pahala mujahid di jalan Allah (fi sabilillah) dan sesungguhnya tiada amalan yang lebih diperkenankan oleh Allah selain menahan lapar dan dahaga"

Saudara-saudari,

Bulan Ramadhan ini adalah anugerah Allah sebagai lambang kasih sayang kepada hamba-hamba Nya. Allah tidak mensia-siakan keletihan umatnya yang berpuasa hinggakan tidur di waktu siang juga diberikan pahala. Begitu besarnya kasih sayang Allah pada kita. Oleh itu marilah bersama-sama kita menilai diri kita. Semoga tahun ini amalan kita akan semakin bertambah dan sempurna perlaksanaannya. Insya Allah. Janganlah kita termasuk dalam golongan yang menganiayai diri
sendiri.

Sabda Rasulullah saw:
"Barangsiapa yang mendirikan Ramadhan dengan penuh keimanan nescaya diampunkan segala dosa-dosanya yang lalu."

Wasalam